Ahad, 22 Mei 2011

Uluwatu

Memasuki gapura samudera terbuka
di rambutmu bunga kamboja
menjelma cendera nirwana.

Gemuruh laut bertaburan bak penari
genggamanmu kutelusuri
melingkarkan cinta di jari manismu.

Ombak menghantam dinding batu, Uluwatu
kupahat namamu sepanjang waktu
dengan palu rindu.

Seribu undakan mengantar kita ke altar cahaya
duduk khusyuk, dupa mewangi angkasa
doa memanjat bianglala. Sang hyang widhi wisesa.

… moksha utuh, cinta tak butuh pengorbanan
bersetubuh berseruh penuh
seluruh.


Kutemukan Puisi dalam Sebait Cinta

Tetes hujan yang melambai di kaca jendela ia mencari alamat sungai. Aku mencari alamat hatimu. Kutemukan telaga: sebuah genangan sunyi, tanpa ombak tanpa nyanyi, lalu kutenggelam dalam bening puisi. Itulah yang istimewa tentang dirimu, ketika segayung hujan membasuh telapak tanganmu, aku terhanyut di situ, lautan teduh dekapanmu. Maka aku menyamar hujan, memelukmu deras, mencium parasmu dengan kecup rintik yang tak pernah tuntas.

Di telapak tanganmu aku mengembara tanpa berhenti, menyusuri garisgaris sungai keberuntunganku. Setiap garis adalah makna. Membawaku pada muara bernama cinta. Aku di situ melukis sawahsawah yang menguning dengan jejak hidupku. Rerumputan, ilalang, kenangan, dan bunga-bunga rindu. Airmata dan semesta. Hujan dan doa. Membentangkan tenda cahaya tempat kita menghabiskan waktu dan bara. Setiap bintang adalah karunia. Setiap titik waktu yang aku petik untukmu.

Aku ingin menulis seperti sebaris embun yang kauselipkan pada seliris kuntum di bibirmu. Cukup manis walau hanya sebait senyum. Kutahu, puisi tak selalu tercipta dari kata. Tetapi hanya dengan kata kumampu menceritakan puisi ini padamu.

Algoritma Laut dan Hujan

Bila kau seumpama laut dan hujan, algoritma ini merelasikan ombak dan hujan: Ombak itu pelukan, hujan itu deras bisikan, dan gemuruh adalah dentum cinta yang tak henti menghantam dada, menghujamkan airmata ke penjuru semesta, menjelma kepakkepak camar yang menjaga samudera. Perahu itu aku.

Di ujung tanjung, debar jantungmu melantunkan ombak. Jemarimu menggulung rindu. Di ujung kelambu kalbu, bermanja menghelai lembar demi lembar rambutmu seakan menyisir pantai. Pasir adalah kanvas perjalananku, tempat setiap jejak kucetak dengan sajak, jejak yang kauhimpun di lengan ombak: memelukku. Pantai itu aku, selalu rapat di sisimu.

Hujan. Di sudut buku katakata berdesakan memasuki guguran hujan. Langit seakan berkilatan menggoreskan tanda seru. Cahaya menjelma gemuruh. Hujan membasuh unggun sajakku, mengeramas setiap aksara, menggenangi ruh huruf dengan bening airmata. Lalu tersisa sebagai butiran yang menetes di akhir paragraf. Dan di halaman berikutnya itu aku.

Aku, yang selalu hanyut bersamamu.

Huruf Cinta di Cakrawala

Seandainya matahari kauberitahu indahnya malam, apakah ia akan datang kemari? Melihat bintangbintang sambil berbaring di atas jambangan lapang bunga rumputan. Tetapi engkau hadir di sisiku dengan bara melampaui hangatnya matahari. Embun yang turun pun menjelma api, membakar langut yang hanyut di sudut mataku.

Tak ada puisi di mambang senja itu jika kau tak membisikkannya untukku, membangunkanku dari tumpukan kertas mimpi. Engkau menggelitik ujung penaku menggoda setiap kata untuk menari bersamamu, mengelilingi api unggun terbakar dan berterbangan menjelma bintangbintang. Lihatlah hurufhuruf cinta itu menyusun dongeng di cakrawala –

Bantu Aku Menulis Kata Cinta

Sabtu, 14 Ogos 2010

Puisi Rindu Kampung

Sambutlah salam manis dari saya, yang ketika ini menulis bentuk puisi bebas, yang pertama kali aku tulis dan aku bukanlah penulis yang gah, biarpun kail panjang sejengkal namun ku tetap menduga laut yang dalam, biarpun ombak datang mengganas, tetap aku berumah di tepi pantai. Aku menulis puisi ini ketika aku mendengar lagu nyanyian Ungu, "tercipta untukku", mulalah timbul di lubuk hati jernih ini kerinduan terhadap kampung halaman.

Aku dibesarkan dalam suasana kampung di Tubau, kenangan sewaktu aku kecil dahulu masih lagi segar dalam ingatan. Aku tinggal di sebuah rumah bumbung lima yang dihadapannya ada pohon bunga jarum dan dibelakangnya ada sebuah pokok asam yang sangat besar. Dari dapur aku boleh melihat sawah yang luas terbentang. Sungguh mengusik hati. Di waktu malam aku suka mendengar bunyi pepohon buluh ditiup angin, sayup-sayup kedengaran bunyi burung Segan dan nyayian cengkerik sangat menghiburkan aku.

Waktu pagi di kampung sungguh terasa tenang. Pagi-pagi lagi aku bersarapan nasi goreng dengan ikan kembong dan terhidang pula dengan kopi hitam. Lepas itu aku keluar bermain, waktu itu embun pagi masih lagi kelihatan di pepohon yang hijau, yang paling aku suka adalah, bau tanah sawah.


Terbit mentari di pagi hari
Terpancar wajah senyum riang
Intai wajah di balik tangan
Ingin berteduh di balik awan


Di bawah cahaya Ku lihat daun
Di bawah daun Adanya embun
Bunga Melur kembang tak sekutum
Di petik satu buat kenangan

Ku pandang ke atas ku lihat langit
Langit yang biru awan yang putih
Andai tiba Si Kelabu mendung
Tidak bermakna berkhabar duka

Rangkap di atas aku tulis ketika aku terbayang suasana hujan di kampung, sering digambarkan awan mendung dengan khabar duka, tetapi bagi aku ianya berita gembira.

Dinginnya malam tidak kesunyian
Riang-riang cengkerik menyanyi
Gelap malam kian terang
Hendap Sang Bulan balik awan

Malam di Kampung sungguh tenang dan mengasyikkan.
Lokasi : Kampung long banie tubau.
Di waktu malam ku lihat bintang
Di balik Bintang Bulan tersenyum
Andai pungguk tidak berlagu
Bulan yang senyum jadi muram

Rangkap ini aku tulis ketika aku mengingat kembali suasana malam di dua tempat berbeza, satu di kampung dan satu lagi di rumah aku di long saan,Balui yang pada ketika itu aku dapat melihat burung pungguk di waktu rembang bulang mengambang, burung tersebut bertenggek di dahan pohon manggis yg sudah mati sambil membunyikan suara. Aku yang ketika itu demam dan bila aku melihat pemandangan seperti itu aku tersenyum dan merasakan persaan yang sungguh damai.


Di rumpun buluh aku menghitung
Daun yang gugur di tapak tangan
Biar kemarau baru berlayar
Menghitung hari bila nak hujan


Angin timur menyapu muka
Sambil membisik khabar berita
Tidak lama kita bersama
Datang tengkujuh menyiram duka

Terik mentari membakar keringat
Peluh menitis di tanah sawah
Hati sedih rasa kecewa
Padi rebah sebelum tuai


Pada rangkap ini aku mengingatkan suasana ketika musim kemarau dan ketika musim menuai padi. Memang banyak daun buluh yang gugur ketika kemarau, sampai masuk ke dalam rumah. Pada musim kemarau seronok bermain layang-layang di tengah-tengah sawah. Aku suka dengan musim kemarau sebab tiada pacat yang akan naik ke kaki aku.

Hujan yang turun Lebat sekali
Jatuh menimpa di atas bunga
Hilang seri tiada rupa
Lima kelopak tinggal satu

Ikan puyu berenang-renang
Cuba menangkap si anak belalang
Rezeki tak dapat nasib malang
Jatuh pula di atas darat

Burung tempua membuat sarang
Jauh meninggi di pohon nyiur
Takkan jatuh ditiup angin
Tetap goyang dipukul ribut

kembali ke kampung halaman
menanam airmata sepanjang jalan
akhirnya datang juga musim hujan
akhirnya memucuk setiap harapan

kembali ke kampung halaman
menawarkan berita ke jantung jaman
sedang anak panah menembus masa
sedang hatiku mengalirkan darah cinta

kembali ke kampung halaman
memaksakan menggusur jamban
tempat meminum kegembiraan
tempat mencuci ulang sedu sedan

kembali ke kampung halaman
bersama lenggang sisa menuliskan keinginan
mengapa di kepala ibu-bapaku tumbuh uban
mengapa sajak-sajakku ditumbuhi dedaunan